Wahai anak pamanku, aku berhasrat untuk menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukan yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkataanmu. (perkataan Khadijah ketika melamar Rasulullah saw.)
Tidak. Demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku tatkala semua orang mendustakanku. Ia yang memberi harta pada saat semua orang enggan memberi. Dan darinya aku memperoleh keturunan, sesuatu yang tidak kuperoleh dari istri-istriku yang lain. (Perkataan Rasulullah saw. Mengenai Khadijah)
Kisah Khadijah, Ummul-Mu’minin, selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Seluruh umat Islam tidak peduli sebesar apa pun perbedaan paham di antarta mereka mencintai Khadijah sepenuh hati. Betapa tidak? Ia adalah istri pertama Rasulullah saw., istri yang menjadi rekan pada saat paling sulit dalam hidup beliau, istri yang selalu menawarkan cinta dan kasih sayang dalam kondisi apa pun.
Khadijah memiliki otak yang cerdas dan perilaku yang mulia. Ia pun memiliki ketabahan luar biasa, sesuatu yang memungkinkannya menghadapi segenap rintangan dan kesulitan tanpa mengeluh. Ia tak pernah mundur. Seluruh jiwa, raga, upaya, dan harta bendanya dipersembahkan bagi perjuangan meretas jalan meuju tegaknya agama Islam.
Setiap kali Rasulullah mengalami penolakan, celaan, atau hinaan, Khadijah menjadi orang pertama yang menghibur, menemani, dan meyakinkan beliau. Hal itu terus berlangsung hingga akhirnya Khadijah meninggal pada usia 65 tahun, tepat 10 tahun sejak Muhammad diangkat menjadi rasul.
Masa-masa itu sungguh berat. Kekuatan fisik Khadijah semakin lama semakin turun. Begitu pula kecantikan. Tetapi ada sesuatu yang tidak pernak berubah di dalam dirinya, yaitu kekuatan spiritual dan kejernihan cinta. Ia selalu dan selamanya beriman kepada Allah serta meyakini kebenaran risalah suaminya.
Rasulullah tidak pernah menikah dengan perempuan lain pada masa hidup Khadijah. Allah pun menghormati Khadijah. Suatu hari, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah saw. Dan berkata, “Wahai Muhammad! Sebentar lagi, Khadijah akan membawakan makanan dan minuman untukmu. Kalau ia datang, sampaikan kepadanya salam dari Allah dan dariku”.
Rasulullah pum menyampaikannya. Khadijah menjawab dengan rasa syukur, “Allah Pemelihara kedamaian dan sumber segala damai. Salamku untuk Jibril”.
Jawaban itu menunjukkan kecerdasan dan kesucian Khadijah. Ia mengagumi Allah dan berdoa kepada-Nya agar dianugerahkan kedamaian dan keselamatan. Ia pun berterima kasih kepada Jibril yang telah menyampaikan salam dari Allah itu kepada dirinya.
Dapat dia bayangkan betapa tidak tertahankan tugas yang harus diemban Rasulullah jika Khadijah tidak berada di samping beliau. Khadijah berperan besar dalam menjadikan rumah tangga Rasulullah damai dan tenang. Karena itu Allah menjanjikan baginya sebuah rumah di surga yang terbuat dari permata yang senantiasa diliputi kedamaian, yang steril dari kebencian dan permusuhan. Rasulullah bersabda,
“Aku diperintahkan untuk meberi kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun untuknya di surge sebuah rumah dari permata; tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah di sana”. (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Khadijah pun menjadi wanita teristimewa bagi Rasulullah. Rasulullah selalu menyebut-nyebut nama Khadijah dan mengistimewakan teman-teman Khadijah, walau hingga Khadijah wafat. Inilah kisah Khadijah, cinta sejati Rasulullah.
Created : Dini Rachmawati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar